Keenam: Maryam binti Abi Ya’qub al-Faysuli ash-Shalabi.
Maryam binti Abi Ya’qub adalah seorang penyair
terkenal. Seorang wanita sastrawan yang mengajar sastra untuk kalangan
perempuan. Selain piawai dalam sastra, ia dikenal dengan keshalehannya.
Asbagh bin Abi Sayyid al-Ishbili memuji Maryam dalam syairnya sebagai
wanita yang mewawisi keshalehan Maryam ibunda Nabi Isa. Dan kemahiran
dalam puisi bak titisan al-Khansa radhiallahu ‘anha.
Ketujuh: Khadijah binti Abi Muhammad Abdullah bin Said ash-Shantajiyah.
Khadijah tinggal bersama ayahnya dalam waktu
yang lama. Ia adalah seorang wanita yang tekun mengkaji Shahih
al-Bukhari. Ia belajar dari seorang ulama yang bernama Abu Dzar Abdullah
bin Ahmad al-Harawi. Selain Shahih al-Bukhari, Khadijah juga memenuhi
waktunya dengan mengkaji buku-buku lainnya. Ia juga pernah bersafar ke
Mekah untuk belajar dari beberapa ulama. Bersama ayahnya, ia pergi
menuju Andalusia dan wafat di sana, semoga Allah merahmatinya.

Kedelapan: Walladah binti al-Mustakfi Billah Muhammad bin Abdurrahman bin Ubaidullah bin Abdurrahman III.
Dari silsilah nasabnya, kita mengetahui
Walladah adalah seorang bangsawan keturunan raja Daulah Umayyah II di
Andalusia. Ia seorang sastrawan dan penyair terkemuka. Fasih lisannya.
Mahir dalam qiroa-at. Tidak ada yang menandinginya dalam kehormatan.
Diriwayatkan bahwa ia wafat pada 2 Safar 484 H/26 Maret 1091 M. Hari dimana Murabithun berhasil menaklukkan Cordoba.

Kesembilan: Ummu al-Hasan binti Abi Liwa bin Asbagh bin Abdullah bin Wansus bin Yarbu al-Miknasi.
Yarbu al-Miknasi merupakan mantan budak dari
Khalifa Umayyah, Sulaiman bin Abdul Malik. Ummu al-Hasan adalah murid
dari Baqi’ bin Makhlad rahimahullah. Baqi’ bin Makhlad (wafat 276 H/889
M) pernah berjalan dari Spanyol ke Baghdad untuk belajar hadits ke Imam
Ahmad bin Hanbal. Sampai-sampai Imam Ahmad takjub dan memuji
kesungguhannya dalam belajar. Ummul Hasan membaca kitab al-Duhur di
hadapan Baqi’ bin Makhlad. Putra Imam Baqi’ bin Makhlad, Ahmad bin Baqi’
hadir dalam pembacaan kitab itu. Ia menyimak bacaan Ummu al-Hasan
melalui kitab untuk memastikan tidak ada kekeliruan pada hafalannya.
Ummul Hasan adalah seorang yang bijak, mampu
memutuskan masalah dengan benar. Ia cerdas, zuhud, dan berakhlak mulia.
Namanya disebut dalam buku-buku yang mengulas keutamaan Baqi’ bin
Makhlad.
Ar-Razi berkomentar tentang Ummu al-Hasan,
“Saat menunaikan ibadah haji, ia mengumpulkan pembahasan-pemabasan fikih
dan hadits. Bahkan Baqi’ bin Makhlad meriwayatkan hadits darinya. Pada
perjalanan haji yang kedua, ia wafat dan dimakamkan di Mekah”.
Ia telah banyak mengerjakan amal kebajikan yang
menjadi tabungan pahala untuk akhiratnya. Mencatat ilmu fikih dan
hadits sehingga bermanfaat bagi orang-orang setelahnya. Namun pernyataan
ar-Razi bahwa Baqi’ meriwayatkan hadits darinya perlu ditinjau ulang.
Karena Ummu al-Hasan lah yang mempelajari hadits dari Baqi’ bin Makhlad.
Dalam al-Muskitah, Amir Abdullah bin
Abdurrahman III bin Muhammad menyatakan, “Seorang wanita berilmu dan
shaleh, putri dari Abu Liwa datang setiap Jumat ke majelis Jumatnya
Baqi’ bin Makhlad di rumah Abu Abdurrahman. Wanita itu merupakan seorang
berilmu yang istimewa. Ia juga telah berhaji”.

Kesepuluh: Lubna
Lubna adalah seorang sekretasi istana di zaman
Khalifah al-Hakam bin Abdurrahman. Di masa Khalifah terbaik Andalusia,
Abdurrahman an-Nashir, ia asisten Muzn (sekretaris khalifah).
Kepiawaiannya dalam tulis-menulis tak diragukan lagi. Selain itu, Lubna
juga mahir dalam tata bahasa, puisi, dan kemampuan matematika yang juga
istimewa. Tidak ada seorang yang istimewa di istana Bani Umayyah
melebihi dirinya. Ia meninggal sekitar tahun 367 H/986 M.
https://kisahmuslim.com/5589-20-wanita-inspiratif-dari-andalusia-12.html
0 Comment to " 27 Wanita Inspiratif dari Andalusia (Part 2) "
Post a Comment
Jika artikel ini bermanfaat yuk di like dan sebarkan :)