UMAT Muslim di Myanmar terbilang minoritas. Tetapi, meski hanya kaum
minoritas, tak membuat mereka sampai berpaling dari Islam. Mereka tetap
berpegang teguh pada agamanya. Hingga, kini kita tahu bahwa mereka
mengalami suatu ujian yang sangat berat. Dimana keberadaan mereka di
negaranya sendiri tak aman lagi.
Jika kita melihat sejarah masuknya muslim ke negara itu, mereka
datang dengan perdamaian. Tak ada sedikit pun kekerasan yang terjadi.
Memang, seperti apa sejarah masuknya Islam di Myanmar?
Sejarawan menyebutkan bahwa umat Islam tiba di wilayah Arakan
bertepatan dengan masa Daulah Abbasiyah yang tengah dipimpin oleh
Khalifah Harun al-Rasyid. Kaum muslimin tiba di wilayah tersebut melalui
jalur perdagangan. Dengan cara damai. Bukan peperangan apalagi
penjajahan.
Karena umat Islam semakin banyak dan terkonsentrasi di suatu wilayah,
jadilah ia sebuah kerajaan Islam yang berdiri sendiri. Kerajaan
tersebut berlangsung selama 3,5 abad. Dan dipimpin oleh 48 raja. Yaitu
antara tahun 1430 – 1784 M. Banyak peninggalan-peninggalan umat Islam
yang terwarisi di wilayah tersebut. Ada masjid-masjid dan
madrasah-madrasah. Di antara masjid yang paling terkenal adalah Masjid
Badr di Arakan dan Masjid Sindi Khan yang dibangun tahun 1430 M.
Pada tahun 1784 M, Arakan diserang oleh raja Budha dari suku Burma
yang bernama Bodawpaya (masa pemerintahan 1782-1819 M). Kemudian ia
menggabungkan wilayah Arakan ke dalam wilayahnya, agar Islam tidak
berkembang di wilayah tersebut. Sejak saat itu bencana umat Islam Arakan
pun dimulai. Peninggalan-peninggalan Islam, masjid dan madrasah,
dihancurkan. Para ulama dan da’i dibunuh. Budha dari suku Burma
terus-menerus mengintimidasi kaum muslimin dan menjarah hak milik
mereka. Mereka juga memprovokasi orang-orang Magh untuk melakukan hal
yang sama. Keadaan tersebut terus berlangsung selama 40 tahun. Sampai
akhirnya berhenti dengan kedatangan penjajah Inggris.
Pada tahun 1824 M, Inggris menguasai Burma. Kemudian kerajaan
Britania itu menggabungkan wilayah itu dengan persemakmurannya di India.
Pada tahun 1937 M, Inggris memisahkan Burma dan wilayah Arakan dari
wilayah kekuasaannya di India. Maka Burma menjadi wilayah kerajaan
Inggris tersendiri yang bernama Burma Britania. Tidak bernaung di
wilayah India lagi.
Tahun 1942 M, bencana besar menimpa kaum muslimin Rohingya.
Orang-orang Budha Magh membantai mereka dengan dukungan senjata dan
materi dari saudara Budha mereka suku Burma dan suku-suku lainnya. Lebih
dari 100.000 muslim pun tewas dalam peristiwa itu. Sebagian besar
mereka adalah wanita, orang tua, dan anak-anak. Ratusan ribu lainnya
melarikan diri dari Burma. Karena pedih dan mengerikannya peristiwa
tersebut, kalangan tua –saat ini- yang menyaksikan peristiwa itu
senantiasa mengingatnya dan mengalami trauma.
Pada tahun 1947 M, Burma mempersiapkan deklarasi kemerdekaan mereka
di Kota Panglong. Semua suku diundang dalam persiapan tersebut, kecuali
umat Islam Rohingya. Pada tanggal 4 Januari 1948, Inggris memerdekakan
Burma secara penuh disertai persyaratan masing-masing suku bisa
memerdekakan diri dari Burma apabila mereka menginginkannya. Namun suku
Burma menyelisihi poin perjanjian tersebut. Mereka tetap menguasai
wilayah Arakan dan tidak mendengarkan suara masyarakat muslim Rohingya
dan Budha Magh yang ingin merdeka. Mereka pun melanjutkan intimidasi
terhadap kaum muslimin.
Dari sejarah itu, ternyata, sudah sejak lama, kaum Muslim Rohingya
mengalami berbagai macam penderitaan. Tetapi sungguh, mereka amat sangat
kuat dalam menghadapi ujian itu. Terbukti, hingga saat ini, masih ada
di antara mereka yang menetap di kampung halamannya. Hal ini semata-mata
mereka yakin bahwa pertolongan Allah pasti tiba. []
Sumber: kisahmuslim.com

0 Comment to "Muslim Rohingya di Myanmar, Begini Sejarahnya"
Post a Comment
Jika artikel ini bermanfaat yuk di like dan sebarkan :)