Showing posts with label Daerah. Show all posts
Showing posts with label Daerah. Show all posts

Tuesday, December 6, 2016

Remaja Jepara Melecehkan Gerakan Sholat Diatas Montor


Telah tersebar di media sosial facebook foto yang melecehkan gerakan sholat di atas montor yang tak lazim. Foto tersebut di unggah akun facebook Wahyu Riyanto 5 Desember 2016 pukul 09.07 WIB.

Foto tersebut di upload pemilik akun Wahyu Riyanto dengan tulisan “plat K bearti area jateng, becandanya gk lucu ngene iki do lapo”.

Banyak yang membagikan foto tersebut. Akhirnya foto tersebut menjadi viral didunia maya. Banyak komentar pedas dari netizen.

Foto tersebut ada yang sebagai imam melakukan gerakan takbirotul ikhrom dan gerakan rukuk sambil berpijak diatas montor Satria FU dan Scoopy. Sedangkan yang 4 menjadi makmum mengikuti gerakan imamnya.

Polda Jepara Jateng langsung bergerak cepat mengamankan ke 5 remaja tersebut dan mengamankan yang sengaja mengambil foto tersebut di kediaman masing-masing.

Untuk menjadi barang bukti, Polda Jepara Mengamankan dua unit sepeda montor yang dijadikan media sholat yang tak lazim dan tak pantas.

Sampai sekarang mereka masih diamankan Polda Jepara untuk proses penyelidikan.  (LM)

Sumber | Republished By Liputan Menara

Thursday, December 1, 2016

Makna Tradisi Omed-omedan Bukan Ciuman Masal



Omed-omedan adalah tradisi turun temurun yang dilakukan oleh Banjar atau kelompok warga Kaja, Desa Adat Sesetan, Denpasar Selatan, Bali.

Tradisi ini digelar satu hari setelah Nyepi dengan peserta pemuda dan pemudi atau lebih dikenal denga Sekaa Teruna Teruni.

Ritual diawali dengan sembahyang bersama peserta omed-omedan dan ada tarian ritual untuk keselamatan, dan menari di area yang akan dijadikan titik acara.

"Sebelum acara dimulai memang dilakukan ritual. Peserta melakukan persembahyangan bersama di pura, dipercikkan air suci, dan memohon keselamatan agar pelaksanaan acara nantinya berjalan dengan baik," kata I Gusti Ngurah Eka Putra, Tokoh Adat Banjar Kaja Sesetan, Denpasar, Bali, Minggu (22/3/2015).

Salah Pengertian

Gusti Ngurah juga menyampaikan, tradisi berangkulan antar muda dan mudi secara bergantian dan disiram air. Memang, menurut dia banyak yang menyalahartikan sebagai ciuman masal antarmuda-mudi.

Tapi kalau dimaknai secara ritual adat ini bermaksud utuk keakraban saja, menjaga kerukunan warga, dan saling kasih sayang.

"Banyak yang bilang ciuman masal. Ya memang kadang ada oknum pemudanya terlalu bersemangat sehingga pemudinya banyak yang malu. Sebenarnya berangkulan, tapi ada saja yang jahil sampai dicium," tambahnya.

Omed-omedan dibagi menjadi dua kelompok yaitu pria dan wanita berbaris ke belakang dan berhadap-hadapan. Satu-persatu baik pria dan wanita dibopong dan dipertemukan kemudian mereka berpelukan dan disiram air.

Semua peserta mendapatkan giliran secara bergantian.

Sumber

Sunday, November 27, 2016

Cherrybelle menghibur warga kudus


Cherrybelle pada tanggal 27 november datang di kudus, menghibur dalam rangka memeriahkan arena pameran perdagangan Kudus Trade Show 2016.

Warga kudus semua kalangan dari yang anak-anak sampai orang dewasa turut hadir.

Mereka sangat antusias melihat perfomance cherrybelle dan ikut bergoyang.

Sumber | Liputan Menara

Wisata Air Terjun Kedung Gender Kudus


 Pada akhir pekan habib bersama kawan kawannya wisata di air terjun Kedung Gender desa Dukuhwaringin . Habib mengetahui wisata tesebut melalui postingan dimedia sosial. Air terjun tersebut tidak kalah bagus dengan air terjun colo. Airnya jernih, debit airnya cukup banyak apalagi dimusim hujan begini, kondisinya masih alami dan pemandangan lebih indah, “ungkapnya.

Pengunjung yang datang tidak dipungut biaya, alias gratis. Cuma membayar parkiran Rp. 3000,00. Air terjun Kedung Gender seperti berbentuk kolam kecil yang jernih dengan ketinggian 15 meter dan kedalaman sekitar 40-55 cm, yang bisa dibuat nyebur bermain air.

Setelah capek bermain air, pengunjung bisa besantai diwarung-warung sekitar air terjun Kedung Gender. Menikmati secangkir kopi dan gorengan yang masih hangat, harganya murah 3 Rb untuk kopi dan 1 Rb untuk gorengan,”tuturnya.

Berwisata di Air Terjun Kedung Gender sama teman atau saudara untuk melepas penat, sambil menghirup udara pegunungan yang masih segar dan masih alami. Terasa capek pun hilang setelah seminggu bekerja.

Menurutnya jika ditingkatkan lagi fasilitasnya menuju akses lokasi dan dikasih anak panah, dan toilet yang memadai pasti akan meningkat jumlah pengunjungnya,”ungkapnya.

Sumber | Liputan Menara

Friday, November 25, 2016

10 Kuliner Kudus Ini Dijamin Pecah Dimulut

10 Kuliner Kudus Ini Dijamin Pecah Dimulut

POJOKSATU.id, KUDUS – Kota Kudus selalu menarik dikunjungi. Dari mulai berziarah ke Menara Kudus, sampai ke Makam Sunan Muria, semua terlihat pas untuk dikunjungi saat libur Lebaran 2016 nanti.

Nah, bagi kamu yang hobi wiskul alias wisata kuliner, sebaiknya Anda jangan lupa mencicipi masakan khasnya.

“Kuliner di Kudus itu khas, karena tidak pakai daging sapi. Biasanya diganti dengan daging kerbau atau kambing,” ungkap Menpar Arief Yahya di Jakarta.

Konon, itu terkait dengan kisah akulturasi antara Islam di era Sunan Kudus, dengan masyarakat asli yang masih beragama Hindu Budha, Mataraman. Sunan Kudus menggunakan cara yang pintar, yakni tidak memakan atau menyembelih sapi. Karena sapi adalah binatang yang keramat bagi umat Hindu. Sapi adalah “titihan” atau binatang peliharaan dewa.

“Sunan Kudus sangat menghormati umat beragama lain, dan mengajarkan sikap-sikap toleransi, sejak dari kuliner,” jelas Arief Yahya.
Kuliner Kudus juga tergolong khas, karena tidak semua tempat atau kota bisa dijumpai jenis-jenis masakan itu. Seperti Lenthog Tanjung, atau lentog, yang hanya dijual di desa Tanjungkarang,

Berikut rekomendasi kuliner khas Kudus yang wajib kamu coba.

1. Lenthog Tanjung

Lentog artinya Lontong. Dahulu, penjualnya berasal dari Desa Tanjungkarang (Tanjung). Maka dinamai Lentog Tanjung. Namun kini telah menyebar ke seluruh pelosok kota Kudus. Yang unik dari lentog adalah ukuran lontongnya yang sebesar betis orang dewasa.

Biasanya lentog tanjung dinikmati sebagai menu untuk sarapan, terdiri dari 3 bahan utama, ada lontong yang dipotong kecil-kecil, sayur gori (nangka muda) dan lodeh tahu. Lentog Tanjung terdiri dari 2 kata, lentog dan tanjung. Lentog atau yang biasanya disebut lontong adalah sebuah makanan yang yang terbuat dari beras yang dibungkus daun pisang .

Sedangkan tanjung (Tanjungkarang) adalah sebuah desa yang berada tepatnya di kecamatan Jati Kab. Kudus, Jawa Tengah. Ya memang makanan khas pagi ini dahulu hanya berasal dari desa sana dan hanya dijual di sekitar daerah tersebut dan ramai pada saat hari Minggu atau libur. Sekarang pun masih ada, walaupun dibeberapa tempat di lain desa juga berdiri warung warung yang menawarkan lentog Tanjung.

2. Garang Asem Kudus

Jika Anda berkendara dari Semarang, masuk ke Kota Kudus. Sebelum pintu gerbang utama Kudus, Anda akan menemukan warung Garang Asem paling terkenal di Kota Keretek ini. Berhadap-hadapan dengan Gedung Persaudaraan Haji.

Garang asem adalah sejenis lauk yang dibungkus dengan daun pisang lalu dimasak dengan cara dikukus (digarang). Ada garang asem yang terbuat dari ayam yang disuwir kecil-kecil dan ada juga yang dibuat dari jeroan ayam, ikan, dan tahu. Garang asem ini memiliki citarasa asam pedas karena menggunakan irisan tomat hijau dan potongan cabe.

3. Soto Kudus

Soto Kudus itu agak berbeda dengan soto dari kota-kota lain di tanah air. Khas. Soto Kudus adalah salah satu kuliner khas Kudus yang sudah terkenal senusantara. Ada dua jenis soto kudus, yaitu soto ayam dan soto kerbau.

Pada awalnya soto kudus dibuat dengan menggunakan daging kerbau karena pada jaman dahulu Sunan Kudus melarang sapi disembelih demi menghormati pemeluk agama Hindu yang saat itu mendominasi masyarakat Kudus.

Untuk isian selain daging, soto kudus lebih simple dibanding soto nusantara lainnya. Isian soto kudus antara lain adalah irisan kol, tauge, seledri, dan taburan bawang goreng. Soto kudus ini memiliki citarasa manis gurih yang khas.
Mangkuknya lebih kecil dari Soto Bangkong Semarang, Soto Mbok Giyem Boyolali, Soto Rumput Boyolali. Bahkan lebih mungil lagi dibandingkan dengan Soto Gading Solo.

4. Nasi Pindang

Kuliner khas Kudus yang satu ini berasal dari Desa Colo, di lereng Gunung Muria. Nasi pindang adalah kuliner berupa nasi dan olahan daging kerbau yang disajikan dengan kuah pindang dan daun melinjo. Kuah pindang kerbau ini berwarna kecoklatan karena dicampur dengan kluwak. Nasi pindang ini memiliki citarasa kuah yang gurih manis. Nasi pindang ini biasa disajikan di atas pincuk atau piring beralas daun pisang. Sepintas, nasi pindang ini memang agak mirip dengan rawon Surabaya, yang kuahnya berwarna gelap.

5. Sate Kerbau

Sate Kerbau lebih mudah ditemui di Kota Kudus, daripada daging sapi. Kuliner khas Kudus yang satu ini merupakan kuliner favorit masyarakat Kudus. Jangan buru-buru berpikir bahwa sate kerbau ini pasti liat dagingnya. Dalam pengolahan sate kerbau, daging kerbau dicincang terlebih dahulu, lalu dimemarkan dengan cara dipukul-pukul, lalu dibumbui dan dimasak. Setelah didiamkan selama beberapa jam baru ditusuk dan dibakar.

Pembakarannya tidak terlalu lama sehingga daging tidak menjadi keras. Sate kerbau ini disantap dengan bumbu yang terbuat dari campuran kacang tanah, serundeng, bawang merah, bawang putih, dan kentang yang dihaluskan.

6. Tahu Telur

Malam hari, silakan melintas di Jalan Sunan Kudus. Anda akan menemukan angkringan sepanjang jalan itu, baik di sayap kiri maupun kanan jalan. Jualannya hanya satu saja, tahu telur. Telor digoreng, bersama potongan tahu, dibumbui dengan bumbu pecel plus bawang putih yang terasa asyik di mulut.

7. Ayam Gongso

Jangan salah paham. Gongso itu bukan berarti gosong, atau terlalu lama memasak dan dibakar api. Dalam bahasa jawa, gongso artinya adalah tumisan. Ayam gongso ini merupakan tumisan ayam dengan bumbu kecap. Citarasanya tentu saja manis, gurih, dan pedas. Penganan sederhana dengan rasa istimewa ini terasa lebih mantap lagi saat disantap bersama nasi goreng.

8. Pecel Pukis

Pecel pakis Colo adalah kuliner khas Kudus yang berasal dari Desa Colo. Pecel ini menggunakan bahan utama sayuran daun pakis dan bahan pelengkap seperti tauge dan kacang panjang. Tumbuhan pakis memang banyak tumbuh di lereng-lereng Gunung Muria. Konon, pecel pakis di Colo bermula ketika seorang warga Colo menjadi juru masak di Keraton Solo.

Keluarga Keraton sangat menggemari pecel pakis sehingga juru masak ini pun harus pandai memasaknya. Setelah tidak menjadi juru masak keraton, ia kembali menetap di kampung halamannya. Anak sang juru masak inilah yang lalu membuka warung pecel pakis di wilayah wisata Colo.

9. Parijoto

Ini bukan makanan olahan melainkan buah unik dari lereng Gunung Muria. Buah ini hanya tumbuh subur di lereng Gunung Muria saja sehingga banyak wisatawan yang membelinya sebagai oleh-oleh khas Gunung Muria Kabupaten Kudus. Parijoto juga diabadikan sebagai motif batik Kudus.

Konon buah ini dapat membuat anak dalam kandungan menjadi cantik dan tampan. Biasanya ibu hamil memakan buah ini pada usia kandungan menginjak lima bulan namun ada juga yang memakannya saat usia kandungan baru dua atau tiga bulan.

Dikarenakan rasanya yang asam dan agak getir, buah ini biasanya dijadikan sebagai rujak atau direbus dahulu sebelum dikonsumsi. Buah dengan nama latin Medinella speciosa L. Secara medis memiliki kandungan kimia saponin dan kardenolin pada daun dan buahnya, sedangkan pada buahnya mengandung flavonoid dan daunnya mengandung tannin yang berkhasiat sebagai obat sariawan dan obat diare.

10. Lepet

Lepet berasal dari kata “lepat” atau “luput” dalam Bahasa Jawa yang artinya kesalahan. Hidangan ini sering dibuat pada lebaran ketupat atau hari ke tujuh Idul Fitri. Makanan ini terbuat dari beras ketan dan kelapa parut yang dibungkus menggunakan daun kelapa lalu direbus.

Biasanya isi lepet ditambah dengan Kacang Tolo namun sekarang sudah dikreasikan dengan ditambah nangka atau pisang sesuai selera. Uniknya ada cerita di balik makanan ini. Orang yang lebih muda mengirimkan Lepet ini bersama Ketupat ke rumah keluarga yang lebih tua, misalnya ibu.Makanan ini digunakan sebagai simbol permintaan maaf maka disebut lepet.(*)

Sumber

HARI GURU NASIONAL: Guru Berbagi dengan Tukang Becak

HARI GURU NASIONAL: Guru Berbagi dengan Tukang Becak

SURABAYA - Sejumlah guru SMA Negeri 4 Pamekasan, Jawa Timur membagikan makanan kepada tukang becak dan warga tidak mampu yang melintas di depan sekolah, Jumat (25/11/2016).

Aksi bagi-bagi makanan tersebut dilakukan untuk memperingati Hari Guru Nasional yang juga bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik (PGRI) ke 71 yang diperingati setiap tanggal 25 November.
Wakil Kepala Humas SMAN 4 Pamekasan, Mardik Siswoyo, mengungkapkan kegiatan bagi-bagi makanan tersebut dilakukan untuk berbagi kebahagian kepada masyarakat kurang mampu.

"Kita ingin berbagi kebahagiaan kepada warga yang tidak mampu, terutama tukang becak yang melintas di depan sekolah," ungkap Mardik Siswoyo.

Dikatakan Mardik, diharapkan dengan kegiatan tersebut dapat terjalin silaturrhmi dan hubungan yang baik antara guru dan masyarakat. terutama juga bagi warga sekitar sekolah.

Tetapi dalam momentum hari guru nasional, para guru ingin pemerintah lebih memperhatikan nasib mereka terutama dalam peningkatan mutu dan penyiapan fasilitas yang mendukung kegiatan belajar mengajar.
(sus)

Sumber